• Senin, 5 Desember 2022

Repost MATRA Juni 2022: Wawancara Anang Iskandar mantan KaBNN dan Bareskrim Polri, Tentang Hakim Kena Narkoba

- Selasa, 7 Juni 2022 | 15:47 WIB

Anang Iskandar Mantan Kepala BNN dan Bareskrim Polri, Ia Bicara Hakim Kena Narkoba

Biasa menyidangkan kasus narkoba, dua hakim Pengadilan Negeri (PN) Rangkasbitung, Banten justru mempermalukan diri, keluarga dan institusi mereka setelah ditangkap aparat Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Banten atas dugaan penyalahgunaan benda haram itu.

Kedua hakim ditangkap dengan barang bukti yang disita sabu-sabu seberat 20,634 gram. YR dan DA  dijerat Pasal 114 dan Pasal 112 ayat (2) JO Pasal 132 ayat (1) UU RU No 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Selain itu juga Pasal 112 ayat (2) dan Pasal 127 ayat (1) huruf (a) JO Pasal 132 ayat (1) UU RI No 35 tahun 2009 tentang narkotika.

“Kami mengapresiasi BNNP Banten yang menangkap tiga ASN, yang dua diantaranya adalah hakim di PN Rangkasbitung,” kata Anang Iskandar, yang kemudian menyebut narkoba menyasar siapa saja, para korbannya berbagai strata sosial mulai pelajar, mahasiswa, masyarakat hingga aparatur sipil negara (ASN).

Ahli hukum narkotika mantan KA BNN ini malah menulis kolom di Hariankami.com tentang UU narkotika adalah UU super khusus, MA wajib menghukum rehabilitasi penyalah guna.

Untuk jelasnya, berikut petikan wawancara dengan Anang Iskandar dengan S.S Budi Raharjo MM, jurnalis yang juga seorang aktivis anti narkoba.

 

Anda menyebut, tertangkapnya hakim YR dan DA cs semoga menjadi momentum bagi hakim lingkungan MA untuk menerapkan hukuman rehabilitasi?

Ya, agar tak terjadi kekeliruan dalam menerapkan pasal UU no 35 tahun 2009 tentang narkotika yang bersifat super khusus.

Anda mengkritik, ketidakcermatan proses peradilan perkara penyalahgunaan narkotika menyebabkan penyalah guna dijatuhi hukuman penjara?

Benar, karena selama ini proses pengadilan perkara narkotika, selalu menggunakan dakwaan secara berlapis secara komulatif atau subsidiaritas, artinya penyalah guna didakwa sebagai pengedar dan penyalah guna, padahal terbukti secara sah dan menyakinkan hanya sebagai penyalah guna melanggar pasal 127/1 tetapi hakim menjatuhkan hukuman penjara.

Hukuman penjara yang dijatuhkan hakim ini bertentangan dengan tujuan penegakan hukum (pasal 4 cd). Ini saya kritik sejak saya jadi KA BNN

Kalau dicermati perkara penyalah guna termasuk perkara hakim YR dan DA cs , perkara yang dialami Nia Rahmadani cs adalah perkara penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri.

Bila pelaku perkara penyalahgunaan narkotika tersebut divisum et repertum atau diassesmen secara benar maka dapat dipastikan bahwa mereka adalah pecandu (penyalah guna dalam keadaan ketergantungan) yang secara hakim wajib menggunakan kewenangan pasal 103.

Halaman:

Editor: Redaksi Kami

Terkini

Ganjar Unggah Foto Berambut Hitam Viral

Senin, 28 November 2022 | 09:03 WIB

Akun Facebook Soimah Berbagi Berkah, Impostor Content

Senin, 28 November 2022 | 07:25 WIB
X