• Senin, 8 Agustus 2022

Energi Terbarukan Untuk Siapa, Kamu Perlu Tahu, repost Majalah EKSEKUTIF edisi cetak

- Senin, 27 Juni 2022 | 13:50 WIB
 
HARIANKAMI.com -- Melihat masih minimnya masyarakat terutama milenial dan Gen Z terhadap energi terbarukan, Tirta Komunika dan Netralnews.com menyelenggarakan talkshow soal energi terbarukan.
 
Acara ini sepenuhnya mendapat dukungan dari PT Pertamina Geothermal Energy.

Netralnews.com yang merupakan media online yang bersertifikasi Dewan Pers yang menggunakan tiga bahasa, yakni Indonesia, Inggris dan Mandarin, memiliki tanggung jawab moral dengan menyelenggarakan even Talkshow.
 
Adapun para nara sumber Dirjen EBTKE (Kementerian ESDM) yang diwakili oleh Kordinator Keteknikan dan Lingkungan Aneka EBT —Martha Relitha Sibarani.
 
Kemudian Daniel Purba, Senior Vice President Strategy and Investment PT Pertamina (Persero), Public Figure, Olivia Zalianty, Mister Grand Tourism 2022, Rifky Moors, serta Miss Grand Tourism Indonesia 2011, serta Dita Fatimatuzzahra.
 
 
                                                       ****
 
Untuk diketahui, ke depan pemanfaatan energi baru dan terbarukan menjadi kebutuhan, mengingat makin terbatas serta bertambah mahalnya energi fosil.
 
Kecenderungan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi yang mengalami kenaikan menjadi pemikiran bersama untuk mencari energi alternatif.
 
Dahulu Indonesia dikenal sebagai salah satu negara pengekspor besar minyak mentah karena sumber daya alam di perut bumi nusantara terbilang melimpah.
 
Seiring berjalannya waktu, predikat tersebut hilang dengan sendirinya karena cadangan minyak bumi semakin menipis, dan sumber cadangan baru ternyata sulit untuk ditemukan.
 
 
 
Era 80-an merupakan masa kejayaan Indonesia sebagai produsen minyak mentah. Namun itu tidak bertahan lama, menjelang akhir tahun 90-an.
 
Indonesia mencatatkan penurunan dalam produksi minyak, dan terjadi hingga sekarang. Sementara itu, konsumsi minyak dalam negeri terus meningkat.
 
Awal tahun 2000-an, Indonesia sudah tidak mampu mencukupi konsumsi dari hasil produksi sendiri. Alhasil, pada 2008 terjadi perubahan dalam sejarah energi Indonesia, dari Anggota OPEC ke importir minyak.
 
Rekam jejak sejarah minyak Indonesia itu diutarakan oleh Martha Relitha Sibarani, Koordinator Keteknikan dan Lingkungan Aneka EBT Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM.
 
 
Menurut Martha, Indonesia sebenarnya sudah memulai pengembangan energi alternatif, berupa Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sejak tahun 1990. Namun saat itu belum terlalu fokus sehingga perkembangannya tak signifikan.
 
Nah, mungkin masih banyak nih para anak muda, baik milenial maupun Gen Z yang belum mengerti benar apa itu energi alternatif yang digadang-gadang untuk mengganti penggunaan energi fosil di Indonesia.
 
Sebenarnya apa EBT itu ya?
 
Berdasarkan Undang-undang No.30 Tahun 2007 tentang Energi, ada dua sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk menggantikan energi fosil.
 
Pertama adalah Energi Baru, yaitu energi yang dihasilkan oleh teknologi baru yang berasal dari sumber energi terbarukan dan sumber energi tak terbarukan.
 
Kedua, Energi Terbarukan berupa energi yang dihasilkan dari sumber daya energi yang berkelanjutan jika dikelola dengan baik.
 
Selanjutnya, diperolah dari mana saja energi alternatif tersebut?
 
Untuk Energi Baru, jenisnya berupa Batubara Tercairkan, Gas Metana Batubara, Nuklir, Batubara Tergaskan, dan Hidrogen. Sedangkan, Energi Terbarukan diperoleh dari Panas Bumi, Air, Bioenergi, Cahaya Matahari/Surya, Bayu/Angin, serta Arus dan Gelombang Laut. 
 
"Potensi EBT di Indonesia sangat besar dan berada hampir di semua tempat, cuma mungkin beda kualitas aja, seperti cahaya matahari, misalnya," kata Martha.
 
Ia mengatakan, hampir semua potensi Energi Terbarukan sudah dimanfaatkan di Indonesia, hanya energi yang berasal dari arus dan gelombang laut saja yang belum bisa diolah karena keterbatasan-keterbatasan yang ada.
 
 
"Potensi energi surya, panas bumi, hidro, bioenergi, bayu, sudah dikembangkan. Sebagian sudah komersil, artinya sudah memberikan penghasilan," terangnya.
 
Sementara itu, untuk pengembangan Energi Baru, menurut Martha, relatif belum banyak dilakukan. Saat ini hanya potensi energi dari gas metana batubara yang masih dalam pengembangan tahap awal.
 
Pengembangan Energi Baru ini memang relatif sulit, butuh teknologi tinggi dan biaya yang mahal. Sehingga, mendorong peralihan energi ke sumber EBT menjadi opsi cepat yang dipilih untuk memacu peralihan alias transisi energi dari energi fosil ke energi bersih.
 
Sebagai informasi, seluruh potensi Energi Terbarukan di Indonesia mencapai 3.686 gigawatt (GW), terbesar merupakan energi surya dengan jumlah potensi hingga 3.295 GW.
 
Sejauh ini, pemanfaatan energi surya baru terealisasi sebesar 217 megawatt (MW) atau sekitar 0,217 GW. Sungguh potensinya masih sangat besar bukan?
 
 
Untuk diketahui, ke depan pemanfaatan energi baru dan terbarukan menjadi kebutuhan, mengingat makin terbatas serta bertambah mahalnya energi fosil.
 
Kecenderungan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi yang mengalami kenaikan menjadi pemikiran bersama untuk mencari energi alternatif.
 
Daniel Purba selaku Senior Vice President Strategy and Investment PT Pertamina (Persero) mengatakan, Pertamina sudah melakukan langkah awal. Dengan melakukan, energi matahari di beberapa SPBU di Pertamina.
 
Pembangkit listrik atap dengan mengambil sumber energi terbarukan, dari matahari juga dilakukan di beberapa kompleks Pertamina di selurun Indonesia. Langkah awal ini, kiranya menjadi contoh dan kesaksian baik untuk semua. 
 
Miss Grand Tourism Indonesia 2022, Dita Fatimatuzzahra turut memberikan perhatian pada isu Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

Baginya Generasi Z dan Milenial sepantarannya perlu mempelajari soal isu EBT. 

Dita akui, isu EBT mungkin kedengarannya masih belum terlalu familiar di kalangan Gen Z dan Milenial.

Maka dari itu perlu ada edukasi soal EBT yang merata pada generasi muda, karena ke depan, generasi muda yang akan memiliki peran untuk mendorong pengembangan EBT.

"Perlu dilakukan edukasi dan sosialisasi soal energi terbarukan pada anak muda. Di masa mendatang, anak muda memiliki peran untuk memberikan solusi-solusi yang terbarik soal energi terbarukan," ujar Dita.

-
 
 Menurut sepengetahuan Dita, ada banyak anak muda yang aktif di Media Sosial (Medsos) dengan jumlah pengikut yang begitu banyak.
 
Dita merasa, Medsos generasi muda bisa jadi wadah untuk melakukan sosialisasi soal EBT dan mengkampanyekan kepedulian pada lingkungan di kalangan anak muda.

"Sebagai perwakilan anak muda, Dita sendiri harap bisa turut membantu sosialisasikan soal energi terbarukan melalui media sosial Dita.

Harapannya bisa menjadi contoh bagi anak muda yang peduli akan lingkungan dan energi terbarukan," ujar wanita 21 tahun ini. 

Tetapi Dita harap, tidak hanya dirinya saja, melainkan ada anak muda lain yang juga bisa bergerak menggunakan Medsos sebagai sarana sosialisasi EBT.

Misalnya saja dalam membuat dan membagikan konten terkait isu terbaru soal EBT dan kepedulian pada lingkungan.

"Agar ke depan bisa kontinyu meninggalkan kebiasaan sebelumnya yang kurang baik," sambung dia.

Dita mengajak anak muda tidak takut atau segan mempelajari isu baru seperti EBT.

Halaman:

Editor: Redaksi Kami

Tags

Terkini

X